Tuesday, 24 May 2016

Kumpulan Teka-Teki Kasus Kematian Misterius

image by google.com



1. Seseorang ditemukan meninggal di tengah gurun. Tidak ada sesuatu pun di dekatnya, kecuali sebuah ransel yang belum dibuka.

2. Di puncak gunung yang bersalju, seorang pendaki ditemukan tewas. Tampak sebuah pistol tergeletak tak jauh dari jasadnya. Walau terlihat ada bekas pemakaian pada pistol tersebut, namun tak ada luka tembak pada tubuh si pendaki itu.

3. Yuli, seorang ibu dari dua orang anak, baru saja pulang setelah berbelanja di pasar dekat rumahnya. Sebelum memasuki dapur ia melewati ruang tamu, dimana ia melihat suaminya, yang telah memecahkan isi kepalanya sendiri. Seraya menghela nafas, ia melanjutkan langkah ke dapur, mengeluarkan barang belanjaannya, dan bersiap memasak.

Friday, 13 May 2016

Ketika Waktu

image by savilerow-style.com


Albert Einstein, si ikon ilmu sains tersebut, mengatakan bahwa waktu itu relatif. Jadi katakanlah kamu sedang dalam perjalanan dari Jakarta ke Bandung, sekembalinya dari sana, kamu merasa bahwa perjalanan pulang ke kota Jakarta terasa lebih cepat daripada saat kamu berangkat tadi. Padahal kecepatan dan jarak yang kita lalui itu sama. Otomatis waktu yang kita tempuh pun sama. Itulah makna relatif tadi. Padahal kita telah membuat satuan ukur waktu; detik, menit, jam, hari, dan lainnya, hanya untuk mendefinisikan si waktu itu tadi, membuat persepsi yang sama bagi semua orang. Meski begitu, tetap saja waktu ialah hal yang misterius bagi kita. Ia tetap tak terukur. Di suatu malam, kita menunggu kekasih yang tak kunjung datang di restoran favorit untuk makan, saat itu kita bisa memperlambat laju waktu. Padahal baru lima menit menunggu, tapi rasanya sudah belasan jam. Di saat lain, ketika dia akhirnya tiba dan kalian mulai menikmati hidangan, saling melemparkan bahan bicara, tertawa bersama, dilatarbelakangi suasana malam yang syahdu dan merdu musik yang mengalun, tiba-tiba seorang pelayan datang memberikan bill sambil mengucapkan permintaan maaf bahwa sudah hampir jam tutup restoran. Seketika kita tersadar, menengok jam tangan, dan terkejut betapa cepat waktu berlalu. Betapa aneh si waktu itu, betapa anomalinya dia. Meski begitu, ia tak dapat dihentikan. Apalagi membuatnya berjalan mundur. Entah sudah berapa kali kita membuat kesalahan, mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan. Sesering itu juga kita mengharapkan andai bisa mengulang lagi waktu. Memperbaiki kekeliruan tersebut. Harapan yang semu. Mustahil terkabul.
Bagaimanapun juga, kita tidak bisa terus hidup di masa lalu. Mengenang luka hanya akan menimbulkan duka. Jadi terus saja melangkah maju, seperti waktu. Tak terhentikan.

Wednesday, 6 January 2016

Soal Matematika Sederhana

 


 

Tentu kita tidak asing lagi dengan operasi hitung pertambahan maupun pengurangan. Bisa dibilang mereka berdua adalah dasar dari matematika. Jadi, saya berasumsi soal berikut ini pastilah mudah untuk dikerjakan;


25-55+(85+65)


Dan kalian pasti takkan percaya kalau saya bilang jawaban dari soal tersebut adalah 5! Bingung kan?!

Friday, 27 November 2015

Tentang Nama

Kini aku memilih untuk tak bernama walau sedari kecil orangtuaku sudah memberiku sebuah nama. Itu terjadi setelah aku bertemu dengannya, dia yang tak bernama, ketika aku sedang berjalan-jalan di tengah hutan belasan kilometer jauhnya dari kota. Di sini burung-burung bersiul bersahutan, ingin kawin. Sepasang muda-mudi di semak-semak yang kulewati tadi juga. Tapi mereka tak bersiul melainkan mendesah. Ah, bukan urusanku!

"Siapa kau? Sedang apa kau?" jeritku ketika melihat sosok itu sedang melayang dari satu pucuk pohon ke pucuk pohon lainnya. Koreksi, bukan melayang. Tak ada manusia yang bisa terbang seperti itu. Barangkali dia cuma melompat ataupun berayun. Rupanya efek alkohol semalam masih tersisa. Sosok itu berwujud manusia. Jangkung. Rupawan. Bersih. Mengenakan jubah serba putih. Dan saat ini sedang menyunggingkan senyumnya padaku.
Aku, katanya, sedang mencari udara segar sama sepertimu Tuan. Tetapi pertanyaan pertamamu sukar untuk kujawab.
"Mengapa?"
Lagi-lagi dia tersenyum. Seolah cuma itu satu-satunya ekspresi yang dimilikinya dan dia menjawab. Nama adalah apa yang para manusia buat untuk membedakan diri kalian sendiri. Mengklasifikasikan sesuatu, mengotak-kotakannya padahal kalian sama.
"Namun dengan itu kami bisa tahu mana nama yang baik dan buruk. Kau tak mau kan kupanggil tahi,  misalnya?
Tak mengapa, sahutnya. Mengapa kau memanggil tahi itu tahi. Kalau aku menyebutnya bunga apakah tahi itu lantas menjadi wangi. Kalau kau menyebutnya bunga juga, maka apa yang baik dahulu, kini menjadi buruk bagimu. Tak ada baik dan buruk pada sebuah nama, Tuan. Ketika Tuan merasa telah memiliki sebuah nama yang baik dengan menjelek-jelekkan nama lainnya, saat itu Tuan mempermalukan diri sendiri.
"Berarti apa sejak lahir kau tak dinamai?"
"Karena ketiadaan yang melahirkanku. Aku hadir sebelum apa yang Tuan sebut waktu itu terbentuk. Aku adalah awal sekaligus akhir. Akulah yang tak bernama..."
Kemudian cahaya itu datang, terang sekali. Ternyata yang bercahaya dia. Hening mengendap-endap. Dan dia melesat serupa kilat. Lenyap.
"Jadi dia itu...Dia!"

Memecahkan Berarti Membeli



Joni sedang dalam perjalanan pulang setelah berbelanja di supermarket dengan mengendarai Vespa biru kesayangannya. Sebagai anak yang baik, tentu ia tak mungkin menolak permintaan ibunya yang menyuruhnya untuk membeli selusin piring keramik sebab minggu depan bakal ada arisan keluarga di rumah Joni.
Sampai di rumah, ia segera memberikan barang belanjaannya itu ke ibunya.
"Bu, ini piringnya?"
"Lhooo, kok pecah semua sih? Kamu gimana bawanya?" Ibu Joni kaget setelah melihat piring-piringnya cuma bisa dipakai untuk makanan penari kuda lumping.
"Gini Bu, pas Joni mau ambil piringnya, di sana kan ada tulisan MEMECAHKAN BERARTI MEMBELI. Ya Joni banting dulu piringnya baru bayar di kasir," balas Joni dengan santai sambil mengacungkan jempolnya lantas mengedipkan satu matanya.

Wednesday, 25 November 2015

Menjerit-jerit

Screaming heart images by genius.com


Triana...
enam huruf yang merangkaimu terucap lisan, memetik tiap bait udara jadi nada

Triana...
di matamu yang sebiru samudera aku hanya ingin berenang lantas tenggelam di sana

Triana...
merindumu buatku paham, kebahagiaan itu semu sedang derita nyata

Triana...
kaulah heroin dan di sini aku mencandumu

Saturday, 21 November 2015

Kumpulan Teka-Teki Klasik Terpopuler

Famous Classic Riddle


1. Apa yang berjalan dengan 4 kaki di pagi hari, siangnya berjalan dengan 2 kaki, saat malam berjalan dengan 3 kaki?

2. Ia sanggup memusnahkan segalanya. Batu, besi, pohon, sapi, ikan. Mengalahkan gunung, meruntuhkan kota, dan membunuh raja. Siapa dia?

3. Ada sebuah bangunan. Seorang buta masuk, namun ketika keluar ia bisa melihat. Bangunan apa itu?

4. Ditangkap, namun langsung dibuang. Tidak kita tangkap, namun kita pelihara. Apakah itu?